KATA PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya khususnya bagi
penulis yang telah menyelesaikan makalah laporan metode ilmiah yang berjudul
“Pengaruh cahaya terhadap perkembangan dan pertumbuhan kacang hijau”
Dalam menulis karya ilmiah ini, alhamdulillah penulis tidak mendapatkan kendala
– kendala, sehingga penyelesaiannya dapat dikerjakan dengan baik. Selain itu
penulis juga mengucapkan terima kasih kepada guru sebagai pembimbing, orang tua
dan semua orang yang terlibat yang telah memberikan dorongan dan motivasi
sehingga karya ilmiah ini dapat terselesaikan.
Disini penulis juga sampaikan, jika seandainya dalam penulisan karya ilmiah ini
terdapat hal – hal yang tidak sesuai dengan harapan, untuk itu penulis dengan
senang hati menerima masukan, kritikan dan saran dari pembaca yang sifatnya
membangun demi kesempurnaan karya ilmiah ini. Semoga apa yang di harapkan
penulis dapat di capai dengan sempurna. Amin.
......, ... Agustus 201..
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………………………………..i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………………………………………………………………….ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar belakang……………………………………………………………………………………………………………………1
1.2. Rumusan
masalah………………………………………………………………………………………………………………1
1.3. Tujuan………………………………………………………………………………………………………………………………..2
1.4.
Manfaat penelitian……………………………………………………………………………………………………………2
BAB II
TINAJUAN PUSTAKA
2.1.
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan………………………………………………..3
2.2.
Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan……………………………………………………3
2.3.
Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan……………………4
2.4.
Objek Penelitian (Kacang Hijau) ………………………………………………………………………………………7
2.5.
Hipotesis…………………………………………………………………………………………………………………………..8
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Jenis Penelitian………………………………………………………………………………………………………………….9
3.2.
Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………………………………………………….……..9
3.3.
Variabel……………………………………………………………………………………………………………………….……..9
3.4.
Alat dan Bahan Penelitian…………………………………………………………………………………………….……9
3.5.
Cara Kerja Penelitian…………………………………………………………………………………………………….……9
3.6.
Cara Pengambilan Data……………………………………………………………………………………………….……9
BAB IV HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Tabel dan Data Hasil Pengamatan……………………………………………………………………………………10
4.2.
Analisa Data……………………………………………………………………………………………………….……………..11
4.3.
Pembahasan dari Data Hasil Pengamatan………………………………………………………….…………….12
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan…………………………………………………………………………………….……………………………..….13
5.2. Saran…………………………………………….…………………………………………………………………………..….….13
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………………………………………………….……14
LAMPIRAN………………………………………………………………………………………………………………………………..15
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Salah satu ciri makhluk hidup adalah tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan
merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh bagian tubuh yang
secara kuantitatif dapat diukur atau suatu peningkatan dalam berat atau
ukuran dari seluru/sebagian dari organisme, sedangkan perkembangan merupakan
bertambahnya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui tumbuh, kematangan
dan belajar atau peningkatan kemahiran dalam penggunaan tubuh (Sacharin,1996).
Pertumbuhan
dan perkembangan merupakan proses yang saling berhubungan. Ada banyak faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan pekembangan tumbuhan. Faktor-faktor tersebut
dikelompokan menjadi 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
internal merupakan faktor yang meliputi faktor genetis (hereditas) dan
factor fisiologis, sedangkan faktor eksternal atau faktor lingkungan merupakan
faktor yang berasal dari luar tubuh tumbuhan tersebut yaitu dari lingkungan
atau ekosistem. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan adalah cahaya.
Cahaya yang
dibutuhkan tumbuhan tidak selalu sama pada setiap tanaman. Ada jenis-jenis
tumbuhan yang memerlukan cahaya penuh dan ada pula yang memerlukan
remang-remang untuk pertumbuhannya. Banyak sekali teori yang menjelaskan
tentang pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan tumbuhan. Namun teori tersebut
belum sepenuhnya dapat dipelajari jika kita belum mengetahui kebenarannya pada
lingkungan kita. Selain itu, masing banyak siswa dan siswi yang belum dapat
menjelaskan pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Untuk itu,
penulis mengadakan penelitian untuk lebih mengetahui dan membuktikan
kebenaran teori tersebut. Dengan berlandaskan teori tersebut, didalam
penelitian ini, penulis akan mengamati pertumbuhan dan perkembangan biji kacang
hijau.
1.2. Rumusan
Masalah
Dari latar
belakang tersebut dapat dirumuskan suatu masalah, yaitu
:
1. Adakah pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang
hijau?
2.
Bagaimana pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kacang
hijau.
1.3. Tujuan
Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian karya tulis ilmiah Pengaruh
cahaya
terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Kacang Hijau ini adalah
:
1. Untuk mengetahui pengaruh
cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau.
2. Untuk
mengetahui perbedaan pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau yang
diletakan dilingkungan yang berbeda intensitas cahayanya.
1.4. Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat untuk
penulis
Dengan adanya penulisan karya tulis ilmiah ini, dapat memberikan pengalaman
serta pengetahuan bagi penulis tentang pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan dan
perkembangan kacang hijau dan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan biji
kacang hijau yang diletakan dilingkungan yang berbeda intensitas cahayanya.
2.
Manfaat untuk pembaca
Untuk
menambah wawasan dan pengetahuan tentang pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan
dan perkembangan kacang hijau dan perbedaan pertumbuhan dan perkembangan biji
kacang hijau yang diletakan dilingkungan yang berbeda intensitas cahayanya,
sehingga menanam kacang hijau dengan intensitas cahaya yang tepat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah proses bertambahnya ukuran (diantarnya volume, massa, dan
tinggi) serta jumlah sel secara irreversible (tidak dapat kembali ke bentuk
semula). Pertumbuhan bersifat kuantitatif (dapat diukur) menggunakan
auksanometer. Pertumbuhan terjadi karena pertambahan jumlah sel dan pembesaran
sel. Proses ini terjadi akibat pembelahan mitosis pada jaringan bersifat
meristematik. Contoh, pertambahan tinggi batang dan jumlah daun.
Perkembangan adalah proses terspesialisasi sel menuju ke bentuk dan fungsi
tertentu yang mengarah ke tingkat kedewasaan yang bersifat kualitatif (tidak
dapat dihitung) dan irreversible. Contoh, munculnya bunga sebagai alat
perkembangbiakan.
2.2. Tahapan
Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan
Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman diawali dengan perkecambahan biji.
1.
Perkecambahan adalah munculnya plantula (tanaman kecil dari dalam biji) karena
pertumbuhan embrio di dalam biji menjadi tanaman baru. Embrio terdiri dari akar
lembaga (calon akar = radikula), daun lembaga (kotiledon) dan batang lembaga
(kaulikulus).
A. Struktur
Biji
Pada biji
tanaman dikotil maupun monokotil: Epikotil (bagian atas kotiledon) di ujung
epikotil terdapat Plumula (ujung batang & calon daun) merupakan poros
embrio yang tumbuh ke atas yang selanjutnya akan tumbuh menjadi daun pertama,
sedangkan Hipokotil (bagian bawah kotiledon) di ujungnya terdpat radikula
(calon akar) adalah poros embrio yang tumbuh ke bawah dan akan menjadi
akar primer.
Pada tanaman
monokotil, misalnya jagung, kotiledon mengalami modifikasi menjadi skutelum dan
koleoptil. Skutelum berfungsi sebagai alat penyerap makanan yang
terdapat di dalam endosperma, sedangkan koleoptil berfungsi melindungi plumula.
Selain itu, pada jagung juga terdapat koleoriza yang berfungsi melindungi
radikula.
Pada biji
dikotil yang berkecambah, embrio menyerap nutrient dari endosperma (cadangan
makanan) sehingga kotiledon mengecil pada akhirnya kisut dang lepas.
B. Proses
Perkecambahan
Proses
Fisika, (a) Terjadi ketika biji menyerap air (imbibisi) akibat dari potensial
air rendah pada biji yang kering.
Proses
Kimia, (b) Air yang masuk mengaktifkan embrio untuk melepaskan hormone
giberelin (GA). (c) Hormon GA mendorong aleuron (lapisan tipis bagian luar
endosperma) untuk sintesis dan mengeluarkan enzim. (d) Enzim bekerja
menghidrolisis cadangan makanan yang terdapat dalam kotiledon dan endosperma.
Proses ini menghasilkan molekul kecil larut dalam air, missal enzim amylase
menghidrolisis pati dalam endosperma menjadi gula. Selanjutnya gula dan zat
lain diserap dari endosperma oleh kotiledon selama pertumbuhan embrio menjadi
bibit tanaman.
C. Macam
Perkecambahan
Berdasarkan letak kotiledon pada saat perkecambahan, ada dua tipe
perkecambahan, yaitu :
- Perkecambahan Epigeal
Ciri
Perkecambahan ini : Terangkatnya kotiledon dan plamula ke permukaan tanah.
Pemanjangan terjadi pada bagian hipokotil (ruas batang dibawah kotiledon).
Perkecambahan ini umumnya terjadi pada biji tanaman Dicotyledoneae (kecuali
kacang kapri), contoh : kacang hijau, kacang kedelai, kapas.
- Perkecambahan Hipogeal
Ciri
Perkecambahan ini : Tertinggalnya kotiledon didalam tanah, sedang plamula tetap
menembus tanah. Pemanjangan terjadi pada epikotil (ruas batang diatas
kotiledon). Umumnya terjadi pada biji monocotyleddoneae, contoh : Jagung, padi.
dan Dicotyledoneae yaitu hanya kacang kapri.
Pada akhir
perkecambahan terbentuk akar, batang dan daun. Selanjutnya, tumbuhan mengalami
pertumbuhan, yaitu :
- Pertumbuhan Primer
Pertumbuhan
yang terjadi karena aktivitas meristem apical (terdapat pada ujung batang dan
ujung akar), menyebabkan pemanjangan akar dan batang.
- Pertumbuhan Sekunder
Pertumbuhan
sekunder terjadi akibat aktivitas pembelahan mitosisi pada jaringan meristem
sekunder (lateral) sehingga mengakibatkan diameter batang dan akar bertambah
besar. Meristem lateral terbagi atas : Kambium vaskuler (terletak diantara xylem
dan floem menyebabkan pembelahan sel kearah dalam membentuk xylem dan kearah
luar membentuk floem. dan Kambium gabus (jaringan pelindung yang menggantikan
fungsi jaringan epidermis yang rusak/mati). Pertumbuhan sekunder terjadi pada
tumbuhan dikotil.
2.3. Faktor
– Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan
- Faktor Internal (Dalam)
A) Faktor
Intraseluler/Genetis
Gen mengandung factor-faktor sifat keturunan yang dapat diturunkan pada
keturunnanya. Gen juga berfungsi untuk mengkontrol reaksi kimia didalam sel,
misalnya sintesis protein. Pembentukan yang merupakan dasar penyusun tubuh
tumbuhan, yang dikendalikan oleh gen secara langsung. Maka gen dapat mengatur
pertumbuhan melalui sifat yang diturunkan dan sintesis-sintesis yang
dikendalikan.
B) Faktor
Interseluler/Fisiologi
Proses yang terjadi merupakan proses fungsional tingkat seluler. Hormon adalah
regulator pertumbuhan yang sangat esensial yang dibuat pada suatu bagian
tumbuhan. Hormon tumbuhan disebut fitohormon.Hormon itu diantaranya :
a. Auksin
Hormon ini
ditemukan pada titik tumbuh batang dan selubung daun pertama tanaman monokotil
yang disebut koleoptil, ujung akar, dan ujung batang serta jaringan yang
masih bersifat meristematis. Fungsi Auksin :
(1)
Merangsang aktivitas cambium untuk membentuk xylem dan floem
(2) Mencegah
rontoknya daun, bunga dan buah
(3)
Merangsang pembentukan buah dan bunga
(4) Memacu
pembentangan dan pembelahan sel
(5)
Merangsang pemanjangan (sel) tunas ujung tanaman
(6) Membantu
pembentukan buah tanpa biji (partenokarpi)
(7)
Merangsang pembentukan akar lateral dan serabut akar
(8)
Merangsang dominasi apical, yaitu terhalangnya tunas lateral oleh adanya tunas
ujung tanaman. Jika tunas ujung tanaman dipotong, maka tunas-tunas lateral akan
tumbuh.
(9)
Memelihara elastisitas dinding sel
Tanaman yang semula tumbuh tegak jika direbahkan maka auksin akan terkumpul
disisi bawah, menyebabkan ketidakseimbangan sel baguan atas dengan bagian bawah
sehingga batang tumbuh membengkok keatas.
Aktivitas auksin akan terhambat oleh cahaya matahari. Karena pada bagian
tanaman yang terkena cahaya auksin akan tidak merata sehingga pertumbuhan
terhambat. Sehingga tempat gelap akan tumbuh lebih panjang. Hal ini karena kandungan
auksin pada tempat terang lebih rendah dari tempat gelap. Oleh karena itu,
batang tumbuh membengkok kearah datangnya cahaya.
b. Giberelin. Berperan dalam merangsang pertumbuhan dan perkembangan embrio.
c. Etilen.
Berperan dalam proses pematangan buah dan kerontokan daun.
d.
Sitokinin. Berperan dalam pembelahan sel (sitokinesis)
e. Asam
absisat. Berperan dalam proses penuaan dan gugurnya daun.
f. Kalin.
Berperan dalam proses organogenesis
g. Asam
traumalin. Berperan dalam proses regenerasi sel apabila tumbuhan mengalami
kerusakan jaringan.
- Faktor Eksternal/Luar
(Lingkungan)
A.
Air
Air termasuk
senyawa utama
yang sangat dibutuhkan tumbuhan. Tanpa air, reaksi kimia dalam sel tidak
berlangsung sehingga tumbuhan mati.
B. Cahaya
Kualitas,
intensitas, dan lamanya radiasi yang mengenai tumbuhan mempunyai pengaruh yang
besar terhadap berbagai proses fisiologi tumbuhan. pada intensitas cahaya
berlebih maka auksin dan klorofil akan rusak sehingga menghambat pertumbuhan.
Sebaliknya, pada intensitas kurang cahaya tumbuhan mengalami etiolasi.
Fotoperiodisme adalah Respon tumbuhan terhadap lama penyinaran (panjang hari).
Berdasarkan
panjang hari, tumbuhan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a) Tumbuhan
hari pendek, tumbuhan yang berbunga jika terkena penyinaran kurang dari 12 jam
sehari. Tumbuhan hari pendek contohnya aster, krisan,dahlia, ubi jalar,
kedelai, dan anggrek.
b) Tumbuhan
hari panjang, tumbuhan yang berbunga jika terkena penyinaran lebih dari 12 jam
(14 – 16 jam) sehari. Tumbuhan hari panjang, contohnya bayam, kentang, gandum,
kol, bit gula, selada, dan tembakau.
c) Tumbuhan
hari netral, tumbuhan yang tidak responsive terhadap panjang hari untuk
pembungaannya. Tumbuhan hari netral contohnya bunga matahari. mawar,
kapas, mentimun dan tomat.
C. Kelembapan
Laju
transpirasi dipengaruhi oleh kelembapan udara. Jika kelembapan udara rendah,
transpirasi akan meningkat. Hal ini memacu akar untuk menyerap lebih banyak air
dan mineral dari dalam
tanah.
Meningkatnya penyerapan nutrien oleh akar akan meningkatkan pertumbuhan
tanaman.
D. Nutrien
Zat makanan
bisa terdapat dalam air, udara, dan tanah (umumnya) dalam bentuk ion. Nutrien
digunakan tumbuhan untuk sumber energy dan sumber materi untuk sintesis
berbagaikomponen sel yang diperlukan selama pertumbuhan. Jika kebutuhan kurang
maka akan terjadi defisiensi (tumbuh tidak sempurna hingga bisa mati) Nutrien
dibedekan atas :
- Makronukrien (unsure
makro/butuh dalam jumlah banyak). Misalnya : C, H, O [defisiensi :
Pertumbuhan dan metabolisme terhambat, akhirnya mati ], N (Nitrogen)
[Daun pucat, klorosis/menguning dan gugur), P (Fosfor), K (Kalium), Ca
(Kalsium) [Daun tidak terbentuk] , S (Sulfur), Mg (Magnesium).
- Mikronutrien (unsure
mikro/butuh dalam jumlah sedikit). Misalnya : Fe (Besi) [Klorosis], Cl
(Klor) [layu], B (Boron), Mn (Mangan), Mo (Molibdenum), Zn (Seng), Cu
(Tembaga).
E. Suhu
Suhu berpengaruh dalm proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, dan
reproduksi. Pada suhu optimum (suhu tertentu saat tumbuh dan berkembang dengan
baik berkisar 10 – 38°C). Umumnya tumbuhan tidak tumbuh pada suhu 0°C dan
diatas 40°C.
F. Oksigen
Oksigen mempengaruhi pertumbuhan tumbuhan. Dalam respirasi aerob pada tumbuhan,
terjadi penggunaan oksigen untuk menghasilkan energi. Energi ini digunakan,
antara lain untuk pemecahan kulit biji dalam perkecambahan, dan aktivitas
tumbuhan. Apabila tumbuhan kekurangan Oksigen dapat mengalami kematian.
G. pH medium (Tingkat keasaman)
Derajat keasaman tanah (pH tanah) sangat berpengaruh terhadap ketersediaan
unsur hara yang diperlukan oleh tumbuhan. Pada kondisi pH tanah netral
unsur-unsur yang diperlukan, seperti Ca, Mg, P, K cukup tersedia. Adapun pada
pH asam, unsur yang tersedia adalah Al, Mo, Zn, yang dapat meracuni tubuh
tumbuhan.
Secara
khusus, inti dari penelitian ini adalah keterkaitan antara Hormon auksin dengan
intensitas cahaya matahari yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
kacang hijau.
2.4. Objek
Penelitian (Kacang Hijau)
Kacang hijau
merupakan salah satu tanaman semusim yang berumur pendek(kurang lebih 60 hari).
Tanaman ini disebut juga mungbean, green gram atau golden gram. Dalam dunia
tumbuh-tumbuhan, tanaman ini diklasifikasikan seperti berikut ini:
Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus radiatus L.
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus radiatus L.
Tanaman
kacang hijau berbatang tegak dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60
cm, tergantung varietasnya. Cabangnya menyamping pada bagian utama, berbentuk
bulat dan berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau dan ada yang ungu.
Daunnya trifoliate (terdiri dari tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai
daunnya cukup panjang, lebih panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda
sampai hiaju tua. Bunga kacang hijau berwarna kuning, tersusun dalam tandan,
keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk sendiri. Polong kacang
hijau berebntuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu
pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan dan setelah tua berwarna hitam
atau coklat. Setiap polong berisi 10-15 biji.
Di dalam
kacang hijau terdapat berbagai kandungan, antara lain : Protein (memperkuat
daya tahan tubuh). Kalsium dan fosfor (memperkuat tulang). Vitamin B1
(membantu proses pertumbuhan dan menghasilkan energy). Vitamin B2 (membantu
penyerapan protein dalam tubuh). Vitamin E (membantu meningkatkan kesuburan).
Zat besi (membantu pembentukan sel darah merah). Magnesium (menjaga fungsi otot
dan syaraf) dan rendah lemak. Terdapat antioksidan yang berguna bagi tubuh.
2.5.
Hipotesis
Hipotesis penelitian ini adalah cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan tumbuhan, yaitu menghambat pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Tumbuhan biji kacang hijau yang berada dilingkungan yang intensitas cahayanya
berbeda akan menghasilkan tinggi yang berbeda. Tumbuhan di tempat gelap akan
lebih cepat tinggi daripada tumbuhan yang berada di tempat terang/bercahaya. Namun,
memiliki perbedaan morfologi, meliputi : keadaan akar, batang dan daun tumbuhan
kacang hijau.
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis
Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Metode eksperimen
adalah metode yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek
penelitian serta adanya kontrol (Nazir,2003).
3.2. Tempat
dan Waktu Penelitian
Tempat
: Disekolah
Waktu
: Kamis, 18
Juli – Rabu, 24 Juli 2013 ( 7 hari )
3.3.
Variabel
Variabel
bebas adalah Cahaya matahari.
Variabel
terikat adalah Morfologi kacang Hijau.
Variabel
terkendali adalah Polibek, Tanah, biji kacang hijau, dan Penyiraman.
3.4. Alat
dan Bahan Penelitian
Alat dan
Bahan yang digunakan :
1. Biji kacang hijau
2. Polibek hitam
3. Tanah
4. Air
5. Mistar dan kertas
3.5. Cara
Kerja Penelitian
1. Rendam biji kacang hiaju selama semalam (±18 jam)
2. Sediakan dua buah polibek yang diisi dengan tanah berkualitas sama
3. Letakkan 5 biji kacang hijau kedalam polibek
4. Beri
label “A2“ pada polibeg yang akan diletakkan pada tempat terang, dan label “B2”
untuk tempat gelap
5. Untuk
tempat gelap, agar terhindar dari cahaya matahari tutup dengan kardus.
6. Siramlah
kacang hijau setiap hari
7. Ukur dan
amati setiap pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau setiap harinya.
3.6. Cara
Pengambilan Data
Data diukur dan dicatat setiap hari pada pukul 17.00 WIB. Ketika pengukuran
agar jelas tumbuhan mana yang akan diukur maka kami memberi tanda, agar untuk
hari selanjutnya data yang didapat tidak rancu.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Tabel
dan Data Hasil Penelitian
A. Tempat
terang
1) Tabel Pertumbuhan
Hari Ke
|
Pertumbuhan (cm)
|
Rata-rata (cm)
|
||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||
1
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
2
|
0.80
|
0.80
|
0.80
|
0.80
|
0.80
|
0.80
|
3
|
2.70
|
2.65
|
2.60
|
2.70
|
2.65
|
2.66
|
4
|
7.20
|
7.30
|
7.00
|
7.30
|
7.30
|
7.22
|
5
|
12.20
|
10.94
|
9.50
|
12.00
|
11.35
|
11.19
|
6
|
13.30
|
14.50
|
12.20
|
14.20
|
15.40
|
13.92
|
7
|
14.50
|
18.00
|
14.50
|
16.30
|
17.40
|
16.14
|
2) Tabel
Perkembangan
Hari Ke-
|
Perkembangan
|
1
|
–
|
2
|
Akar mulai
menembus tanah dan sebagai plamula mulai tampak
|
3
|
Akar mulai
menamcap ketanah, Hipokotil keatas dan warna biji hijau muda
|
4
|
Akar
menancap kokoh ketanah, daun muncul bewarna hijau terbuka dan batang hijau
kuat
|
5
|
Daun
terbuka semuanya dan mengarah kematahari
|
6
|
Daun makin
tebal dan bewarna hijau segar
|
7
|
Tumbuhan
segar dan batang kokoh
|
B. Tempat
Gelap
1) Tabel Pertumbuhan
Hari Ke
|
Pertumbuhan (cm)
|
Rata-rata (cm)
|
||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
||
1
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
0.00
|
2
|
1.00
|
1.00
|
1.00
|
1.00
|
1.00
|
1.00
|
3
|
3.80
|
3.80
|
3.90
|
3.90
|
3.90
|
3.86
|
4
|
9.00
|
9.00
|
9.20
|
9.15
|
9.10
|
9.09
|
5
|
14.5
|
14.50
|
15.50
|
16.00
|
15.10
|
15.11
|
6
|
21.00
|
22.30
|
21.70
|
22.40
|
20.30
|
21.54
|
7
|
26.00
|
24.50
|
25.00
|
27.50
|
23.50
|
25.30
|
2) Tabel
Perkembangan
Hari Ke-
|
Perkembangan
|
1
|
–
|
2
|
Akar mulai
menembus tanah dan sebagai plamula mulai tampak
|
3
|
Akar mulai
menamcap ke tanah, Hipokotil keatas dan warna biji kuning muda dan ada juga
bewarna merah muda
|
4
|
Akar
menancap kokoh ke tanah, daun muncul tapi menguncup kekuningan dan batang
putih pucat
|
5
|
Daun masih
mengatup,Batang lemah pucat dan tumbuh menyebar
|
6
|
Daun
kuning tetap menguncup, Batang makin pucat dan lemah
|
7
|
Tumbuhan
pucat, daun tidak berkembang
|
4.2 Analisis
Data
Pada
dasarnya tumbuhan membutuhkan cahaya. Banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan
tiap tumbuhan berbeda-beda. Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap
pertumbuhan dan perkembangan biji kacang hijau dengan merendam kacang hijau
selama 18 jam dan meletakan 5 biji kacang hijau ke dalam polibek (polibek A2
dan polibeg B2) lalu meletakkan polibek A2 di tempat terang dan polibek B2
ditempat gelap. Dari tabel dan grafik pengamatan tinggi tanaman yang telah
diukur setelah 7 hari, ternyata didapat rata-rata tinggi tanaman kacang hijau
yang ditanam ditempat terang dan gelap adalah :
XA2
=
∑Tinggi Tanaman Tempat terang/6 = 49.122/6 = 8.19
cm
XB2
=
∑Ttinggi Tanaman Tempat gelap/6 = 72.858/6 =
12.14 cm
Jadi,
selisih tinggi tanaman kacang hijau yang ditanam ditempat terang dan gelap
adalah :
X
= X2 – X1
= 12.14 – 8.19
= 3.95
Keterangan :
X1
: Tanaman tempat
terang
∑1 = Jumlah tinggi tanaman tempat terang
X2
: Tanaman tempat
gelap
∑2 = Jumlah tinggi tanaman tempat gelap
X : Selisih
tinggi
tanaman
n = Jumlah hari selama penelitian (6 hari karena pada hari pertama tidak
mengalami pertumbuhan)
4.3.
Pembahasan dari Data Hasil Penelitian
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan telah menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan pertumbuhan dan perkembangan di tempat yang terkena cahaya dan yang
tidak terkena cahaya (gelap). Hal ini menunjukkan bahwa cahaya mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau.
Apabila
ditanam di tempat gelap, maka tanaman kecambah akan tumbuh lebih panjang
daripada normalnya. Peristiwa itu terjadi karena pengaruh fitohormon, terutama
hormon auksin. Fungsi utama hormon auksin adalah sebagai pengatur pembesaran
sel dan memacu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin
ini sangat peka terhadap cahaya matahari. Bila terkena cahaya matahari, hormon
ini akan terurai dan rusak. Pada keadaan yang gelap, hormon auksin ini tidak
terurai sehingga akan terus memacu pemanjangan batang. Akibatnya, batang
tanaman akan lebih panjang jika ditanam di tempat yang gelap, tetapi dengan
kondisi fisik tanaman yang kurang sehat, akar yang banyak dan lebat, batang
terlihat kurus tidak sehat, warna batang dan daun pucat serta kekurangan
klorofil sehingga daun berwarna kuning. Peristiwa ini disebut etiolasi
Jika ditanam
di tempat terang, maka kecambah akan tumbuh lebih pendek daripada yang ditanam
di tempat gelap. Peristiwa itu juga terjadi karena pengaruh fitohormon,
terutama hormon auksin. Seperti yang telah dijelaskan di atas, hormon auksin
ini akan terurai dan rusak sehingga laju pertambahan tinggi tanaman tidak
terlalu cepat. Akibatnya, batang tanaman akan lebih pendek, tetapi dengan
kondisi fisik tanaman yang sehat, subur, batang terlihat gemuk, daun terlihat
segar dan berwarna hijau serta memiliki cukup klorofil.
BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Dari hasil
penelitian pengaruh faktor cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan biji
kacang hijau, dapat disimpulkan bahwa cahaya dapat mempengaruhi proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Proses pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan membutuhkan cahaya. Namun, banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan
tiap tumbuhan berbeda-beda, begitu pula dengan tumbuhan kacang hijau.
Dari
penelitian yang telah dilakukan terhadap pertumbuhan dan perkecambahan biji
kacang hijau, biji kacang hijau yang diletakan ditempat gelap dan terang akan
mempunyai perbedaan. Biji kacang hijau yang terkena cahaya matahari secara
langsung (terang) pertumbuhannya lebih lambat, daunnya lebar & tebal,
berwarna hijau, batang tegak, kokoh. Sedangkan, biji kacang hijau yang tidak
terkena cahaya matahari (gelap) pertumbuhannya lebih cepat tinggi (etiolasi)
dan daunnya tipis, berwarna pucat, batang melengkung tidak kokoh. Hal ini
terjadi karena cahaya memperlambat/menghambat kerja hormone auksin dalam
pertumbuhan meninggi (primer). Sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang
telah dibuat sebelumnya telah benar.
5.2. Saran
Sebaiknya,
percobaan dilakukan dalam waktu yang lebih lama agar terlihat lebih jelas
dan lebih detail dalam menyimpulkan perbedaan antara tumbuhan yang berada
ditempat terang dan berada ditempat gelap. Juga peralatan yang lebih komplit
dan modern, seperti bukan menggunakan mistar tetapi menggunakan auksanometer
agar hasil lebih akurat.
Sebaiknya,
menanamnya di aqua gelas yang bening agar ketika difoto tampak jelas dari ujung
akar hingga ujung daun. Dan sebaiknya medium tempat tumbuh kacang hijau
tersebut lebih besar, agar pertumbuannya maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Aryuli,
Diah., Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf, Endang Widi Winarni. 2007. Biologi 3
SMA dan MA untuk Kelas XII. Jakarta : Esis.
Kusumawati,
Rohana., dan Wigati Hadi Omegawati. 2013. PR Biologi untuk SMA/MA Kelas XII.
Klaten : Intan Pariwara.
Syamsuri,
Istamar dkk. 2004. Biologi untuk SMA kelas 3A. Malang : Erlangga
Rachmawati,
Faidah., Nurul Urifah, Ari Wijayati. 2009. BSE Biologi Untuk SMA Kelas XII
Program IPA. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun
2009.
Sumber dari
Internet :
LAMPIRAN
1. Gambar
Pendukung Tinjauan Pustaka
Perkecambahan
Epigeal
Perkecambahan HIpogeal
Interaksi Hormon terhadap (a) Grafitasi dan (b)
Cahaya)
3. Grafik
dari Data Hasil Pengamatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar